DOSA TURUNAN
Terhenyak oleh sebuah jawaban yang diberikan seorang anak saat kemarin kutanya kenapa dia tidak puasa.
"Putri puasa ya?"
"iya, tante."
"wow...subhanallah. hebat ya putri. puasanya gk pernah bolong ya?"
"bolong satu"
"lho... kenapa? putri sakit ya?"
"enggak...kmaren putri jatuh. trus nangis...jadi batal deh puasanya."
whattttsss????
jaman serba internet masih ada yang nganggap nangis batalin puasa!!!
"kata siapa sayang, klo nangis batalin puasa?" tanyaku.
"ayah yang bilang"
"????"
akupun teringat masa kecilku.
sampai kelas 6 SD aku masih meyakini beberapa hal yang membatalkan puasa yang tidak ada dasar dan tuntunannya. beberapa sebab itu antara lain :
1. menangis
2. luka mengeluarkan darah
3. mengorek kuping
4. ngupil (?)
5. meludah
Sering tanpa sadar orang tua mewariskan kesalahan turun-temurun.
suatu hal yang awalnya dipakai untuk menakut-nakuti anak, namuan akhirnya dijadikan pedoman. karena tidak pernah diluruskan.
satu contoh, saat kecil pas memasuki bulan ramadhan biasanya dikampung2 anak-anak pada menangis minta dibelikan baju baru. untuk orang tua yang kaya, mungkin itu tidak menjadi masalah. namun untuk sebagian dari mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan tentu saja hal itu sangat memberatkan. ditambah lagi kebutuhan menjelang lebaran sangat banyak.
untuk menenangkan anak yang rewel minta baju baru maka ada orang tua yang memakai metode manakut-nakuti dengan mengatakan
" nak...jangan menangis.kamu kan lagi puasa. ntar batal lho puasanya"
cukup manjur, si anakpun terdiam dan melupakan masalah baju baru.
tapi masalah tidak berhenti sampai disitu. saat bermain dengan temannya, si anak akan menyampaikan apa yang telah dikatakan orangtuanya.
" teman-teman...klo puasa gak boleh nangis lho, ntar batal puasanya "
dan itupun seolah jadi pesan berantai yang tiada putusnya.
ketika anak tumbuh dewasa, pesan orang tua itu masih diyakininya, dan kemudian diajarkan pada anaknya. entah karena memang hal itu dianggap benar, atau bisa juga sebagai alat untuk menenangkan anaknya ketika menangis dibulan puasa.
Tugas kita sebagai orang tua untuk meluruskan itu semua. jangan sampai generasi berikutnya masih meyakini hal-hal konyol itu sebagai sebuah kebenaran.
Dan kita sebagai orang tua seyogyangya memberikan alasan-alasan yang masuk akal saat menolak permintaan anak. yakin...dengan pengertian dan kelembutan anak akan lebih menerima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar