Bayangan lelaki perkasa yang tak banyak kata itu selalu ada di hati, pikiran dan benakku.
aku sangat menyayangi, menghormati dan membanggakannya.
Dia adalah lelaki "terhebat" yang pernah ku kenal, tak ada tandingannya...bahkan oleh suamiku sekalipun.
Bapak....
sosok lelaki pendiam yang luar biasa, bila berkata memakai kalimat yang sarat makna.
beliau memang pendiam...namun bila saatnya diperlukan maka gebrakannya menakjubkan.
bapak selalu didaulat jadi pembawa acara (pranoto coro) dalam setiap pernikahan, beliau juga sering jadi pembicara dalam setiap perkumpulan, jadi pembaca do'a dalam pengajian, dan segudang peran penting dalam berbagai acara.
namun diluar itu...bapak adalah lelaki pendiam.
Bapak...
beliau jarang marah kepadaku, tidak pernah bahkan.
bila ada sesuatu yang kurang berkenan, biasanya bapak menyampaikan lewat ibuku.
namun itu lebih dari cukup buatku sadar dan mengerti akan kekhilafanku.
Saat aku sakit...bapak akan datang kekamarku, tanpa kata beliau langsung memijat punggungku dengan minyak angin. dan setelah baikan baru beliau berucap...kata yang sama sejak aku mulai ingat hingga aku dewasa tak pernah berubah " mbak...klo sakit makan yang banyak, nanti sakitnya cepet sembuh. seperti bapak iniloh...klo sakit tambahin porsi makannya. mbak rita minta apa, biar dibelikan ibumu ".
setelahnya bapak akan baring disampingku, menemaniku (tanpa kata).
Hoby bapak adalah membaca, disaat luang beliau pasti membaca, yang paling disukainya adalah buku agama dan buku sejarah.
Dan yang paling sering kulihat adalah buku mingguan bahasa jawa " Panjebar Semangat".
buku itu beliau beli dari toko buku loakan, bukan buku baru.
Cerita tentang bapak memang tiada habisnya, karena aku memang mengaguminya.
Hoby bapak yang lain adalah traveling, meski kondisi ekonomi pas-pasan tapi bapak selalu meluangkan waktu + dana untuk bepergian. entah itu ke tempat wisata, ziarah kubur, ataupun kerumah sanak saudara yang jauh rumahnya.
Hampir seluruh kota di Jawa pernah disinggahinya. Dan setelah aku menetap di Kalimantan, maka hampir seluruh kota di Kalimantan Timur dan Selatan pernah dijelajahinya.
Bapak juga suka bersilaturahim, tidak peduli dia lebih tua atau lebih muda pasti bapak datengin.
biar awet muda bilangnya.
mungkin terkesan aneh, orang yang pendiam kok hoby silaturahim. tapi itulah bapak...
basa-basi sebentar...kemudian lebih banyak mendengarkan.
itulah sekelumit tentang bapak...
TO BE CONTINUE
Rabu, 24 Juli 2013
Senin, 22 Juli 2013
DOSA TURUNAN
DOSA TURUNAN
Terhenyak oleh sebuah jawaban yang diberikan seorang anak saat kemarin kutanya kenapa dia tidak puasa.
"Putri puasa ya?"
"iya, tante."
"wow...subhanallah. hebat ya putri. puasanya gk pernah bolong ya?"
"bolong satu"
"lho... kenapa? putri sakit ya?"
"enggak...kmaren putri jatuh. trus nangis...jadi batal deh puasanya."
whattttsss????
jaman serba internet masih ada yang nganggap nangis batalin puasa!!!
"kata siapa sayang, klo nangis batalin puasa?" tanyaku.
"ayah yang bilang"
"????"
akupun teringat masa kecilku.
sampai kelas 6 SD aku masih meyakini beberapa hal yang membatalkan puasa yang tidak ada dasar dan tuntunannya. beberapa sebab itu antara lain :
1. menangis
2. luka mengeluarkan darah
3. mengorek kuping
4. ngupil (?)
5. meludah
Sering tanpa sadar orang tua mewariskan kesalahan turun-temurun.
suatu hal yang awalnya dipakai untuk menakut-nakuti anak, namuan akhirnya dijadikan pedoman. karena tidak pernah diluruskan.
satu contoh, saat kecil pas memasuki bulan ramadhan biasanya dikampung2 anak-anak pada menangis minta dibelikan baju baru. untuk orang tua yang kaya, mungkin itu tidak menjadi masalah. namun untuk sebagian dari mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan tentu saja hal itu sangat memberatkan. ditambah lagi kebutuhan menjelang lebaran sangat banyak.
untuk menenangkan anak yang rewel minta baju baru maka ada orang tua yang memakai metode manakut-nakuti dengan mengatakan
" nak...jangan menangis.kamu kan lagi puasa. ntar batal lho puasanya"
cukup manjur, si anakpun terdiam dan melupakan masalah baju baru.
tapi masalah tidak berhenti sampai disitu. saat bermain dengan temannya, si anak akan menyampaikan apa yang telah dikatakan orangtuanya.
" teman-teman...klo puasa gak boleh nangis lho, ntar batal puasanya "
dan itupun seolah jadi pesan berantai yang tiada putusnya.
ketika anak tumbuh dewasa, pesan orang tua itu masih diyakininya, dan kemudian diajarkan pada anaknya. entah karena memang hal itu dianggap benar, atau bisa juga sebagai alat untuk menenangkan anaknya ketika menangis dibulan puasa.
Tugas kita sebagai orang tua untuk meluruskan itu semua. jangan sampai generasi berikutnya masih meyakini hal-hal konyol itu sebagai sebuah kebenaran.
Dan kita sebagai orang tua seyogyangya memberikan alasan-alasan yang masuk akal saat menolak permintaan anak. yakin...dengan pengertian dan kelembutan anak akan lebih menerima.
Terhenyak oleh sebuah jawaban yang diberikan seorang anak saat kemarin kutanya kenapa dia tidak puasa.
"Putri puasa ya?"
"iya, tante."
"wow...subhanallah. hebat ya putri. puasanya gk pernah bolong ya?"
"bolong satu"
"lho... kenapa? putri sakit ya?"
"enggak...kmaren putri jatuh. trus nangis...jadi batal deh puasanya."
whattttsss????
jaman serba internet masih ada yang nganggap nangis batalin puasa!!!
"kata siapa sayang, klo nangis batalin puasa?" tanyaku.
"ayah yang bilang"
"????"
akupun teringat masa kecilku.
sampai kelas 6 SD aku masih meyakini beberapa hal yang membatalkan puasa yang tidak ada dasar dan tuntunannya. beberapa sebab itu antara lain :
1. menangis
2. luka mengeluarkan darah
3. mengorek kuping
4. ngupil (?)
5. meludah
Sering tanpa sadar orang tua mewariskan kesalahan turun-temurun.
suatu hal yang awalnya dipakai untuk menakut-nakuti anak, namuan akhirnya dijadikan pedoman. karena tidak pernah diluruskan.
satu contoh, saat kecil pas memasuki bulan ramadhan biasanya dikampung2 anak-anak pada menangis minta dibelikan baju baru. untuk orang tua yang kaya, mungkin itu tidak menjadi masalah. namun untuk sebagian dari mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan tentu saja hal itu sangat memberatkan. ditambah lagi kebutuhan menjelang lebaran sangat banyak.
untuk menenangkan anak yang rewel minta baju baru maka ada orang tua yang memakai metode manakut-nakuti dengan mengatakan
" nak...jangan menangis.kamu kan lagi puasa. ntar batal lho puasanya"
cukup manjur, si anakpun terdiam dan melupakan masalah baju baru.
tapi masalah tidak berhenti sampai disitu. saat bermain dengan temannya, si anak akan menyampaikan apa yang telah dikatakan orangtuanya.
" teman-teman...klo puasa gak boleh nangis lho, ntar batal puasanya "
dan itupun seolah jadi pesan berantai yang tiada putusnya.
ketika anak tumbuh dewasa, pesan orang tua itu masih diyakininya, dan kemudian diajarkan pada anaknya. entah karena memang hal itu dianggap benar, atau bisa juga sebagai alat untuk menenangkan anaknya ketika menangis dibulan puasa.
Tugas kita sebagai orang tua untuk meluruskan itu semua. jangan sampai generasi berikutnya masih meyakini hal-hal konyol itu sebagai sebuah kebenaran.
Dan kita sebagai orang tua seyogyangya memberikan alasan-alasan yang masuk akal saat menolak permintaan anak. yakin...dengan pengertian dan kelembutan anak akan lebih menerima.
Langganan:
Postingan (Atom)